Minggu, 09 Januari 2011

i'm lupus survivor....

"Rekam Medis… suatu perjalanan"
Aku adalah seorang odapus, yaitu seseorang yang menderita lupus. Aku didiagnosis terkena penyakit ini sejak april tahun 2009 ini, masih sangat baru dan kaget sudah pasti setelah tahu sakit ini dan jujur sampai saat inipun aku masih kaget but I just try to think all of this is easy, show must go on girls…
Semua berawal dari awal maret 2009, gejala-gejala penyakit ini mulai muncul, yang pertama aku rasakan adalah tiba-tiba saja seluruh badan terasa pegal seperti habis dipukulin beratus-ratus orang, memang sedikit berlebihan ya kalau dijelaskan, tapi ya memang seperti itu yang aku rasakan, semua tulang persendian terasa sangat sakit hingga untuk beraktivitas seperti berdiri, duduk, jongkok, berjalan dan bahkan hanya untuk menggerakkan satu jaripun terasa sangat berat dan sakit. Aku dan juga keluarga semula menganggap kalau aku hanya kecapekkan saja dan hanya butuh istirahat, tetapi ternyata rasa sakit itu tidak sembuh selama beberapa hari. Akhirnya keluargaku membawa berobat ke rumah sakit dekat rumah. Setelah diperiksa, dokter disana menduga aku ada kemungkinan diabetes, dalam hati aku tidak habis pikir mengapa dokter bisa mendiagnosis diabetes, padahal keluhan yang aku rasakan semuanya terletak pada tulang. Meskipun tidak yakin, aku tetap mengikuti apa saran dokter untuk minum obat dan menjalani tes darah, tapi ternyata begitu melihat hasilnya, darahku semua normal dan obat-obatan yang diberikan dokter tidak kunjung membuatku sembuh.
Lalu kemudian aku kembali berobat kerumah sakit yang sama dengan dokter yang berbeda, dugaan dokter kali ini berbeda dengan dokter sebelumnya. Dokter menduga kalu aku ada gejala osteoporosis dan harus diperiksa rontgen untuk meyakinkan. Tetapi setelah periksa dan menerima hasilnya ternyata semua tulangku normal dan sama seperti sebelumnya, obat-obatan yang diberikan tidak kunjung membuatku sembuh juga. Malahan rasa sakit pada tulangku semakin menjadi-jadi sampai-sampai untuk berjalanpun aku harus dipapah, memakai baju dan memasang kancingpun sulitnya bukan main. Bukan hanya itu, nafsu makanku juga berkurang hingga berat badanku berkurang drastis apalagi sariawan di mulutku yang semakin parah.
Tiap malam aku selalu menangis tidak bisa tidur karena merasakan sakit dan keluargakupun bingung harus berobat kemana lagi, sampai-sampai salah satu saudaraku tahu aku sakit dan membawakan seorang paranormal ke rumah, sebenarnya aku kurang percaya dengan hal-hal yang menyangkut paranormal, tetapi aku menurut saja apa kata saudara dan keluargaku dengan harapan aku bisa sembuh, toh paranormal tersebut tetap mengikuti ajaran islam dengan bacaan-bacaan al-Quran. Tetapi tidak lama kemudian, aku dan keluarga memutuskan untuk berhenti menemui paranormal itu karna jujur kami kurang begitu menyukai sikap beliau dan lama kelamaan pembicaraannya semakin tidak jelas karena beliau terus menduga-duga kalau penyakitku ini karena ada hal yang berbau mistis seperti katanya aku 'diikutin ' setan lah apa segala macam dan itu malah membuat semakin tidak tenang dan seakan mengada-ada.
Akupun kembali berobat ke rumah sakit, tetapi di rumah sakit yang berbeda, setelah diperiksa dokter menduga aku terkena rematik, dokter memberikanku obat dan dianjurkan kembali untuk cek darah. Obat yang diberikan dokter merupakan obat pereda nyeri tulang yang aku alami, aku sempat senang karna rasa sakit itu sedikit menghilang dan aku dapat berjalan normal tapi ternyata obat tersebut hanyalah untuk menghilangkan rasa sakit karna beberapa jam kemudian, rasa sakit itu kambuh lagi. Akupun kembali ke dokter yang sama dengan membawa hasil darah dan dokter bilang aku ada kemungkinan rematik jantung. Untuk meyakinkannya, dokter menganjurkan aku untuk diperiksa rekam jantung dan 'Echo', dokter merujukku untuk ke RSCM.
Tanpa menunggu waktu lama, beberapa hari kemudian keluargaku membawaku ke RSCM poli jantung untuk echo dan rekam jantung, and you know what? Seperti yang sudah diduga, hasilnya normal tak ada gangguan apapun.

"Suatu kenyataan yang harus diterima…"
Aku sempat berpikir kalau penyakitku ini bukan karna sakit tetapi hanya karena stress dan pikiran, atau orang psikologi menyebutnya dengan istilah psikosomatis. Kakakku sempat ingin memeriksakan aku di bagian psikosomatis yang juga bertempat di RSCM, tetapi tidak jadi. Akhirnya aku melanjutkan untuk berobat lebih lanjut ke dokter di poli jantung dan dokter bilang semua hasil echo dan rekam jantung bagus dan normal. Dokter disana menanyakan semua keluhan-keluhan yang aku rasakan dan aku menceritakan semua dengan sejelas mungkin, kemudian oleh karena semua keluhan yang kusebutkan tidak ada yang berhubungan dengan jantung, dokterpun membuat rujukan periksa ke poli reumatologi, waktu itu dokter sempat berkata aku ada dugaan rematik, arthritis, atau lupus.
Tanpa lelah aku terus berobat untuk tahu sebenarnya aku sakit apa. Aku memeriksakan diri ke poli reumatologi di RSCM. Seperti biasa, setelah diperiksa dan aku menyebutkan semua keluhan-keluhan yang aku alami, dokter masih belum bisa mendiagnosa aku sakit apa dan harus menjalani berbagai macam tes, mulai dari rontgen tulang tangan, kaki, rangka tubuh, tulang belakang hingga cek darah lengkap plus tambahan tes ANA, Anti Ds-DNA karena ada kemungkinan aku lupus SLE (systemic lupus erythemathosus), pada saat itu, entahlah itu jenis sakit apa, aku urung memikirkannya dulu. Akupun menjalani serangkaian tes tersebut, setelah mendapat hasil rontgen, darah, dan tes ANA, Anti Ds-DNA, aku kembali ke dokter poli reumatologi untul tahu hasilnya. Setelah diperiksa dan ditanyakan kembali keluhannya apa, dokter berdiskusi dengan dokter lain yang ada di poli reumatologi, begitu dokter kembali, dengan sangat hati-hati dokter berkata bahwa aku positif mengidap penyakit lupus SLE (systemic lupus erythemathosus)
Aku kaget…aku kaget bukan main, tercengang bahkan dihadapan dokter saat itu juga aku menagis sejadi-jadinya. Sebenarnya pada saat dokter bilang aku sakit lupus, aku tidak tahu sama sekali lupus penyakit apa, yang aku tahu pasti penyakit itu bisa parah sekali dan belum ada obatnya, itulah yang membuatku menangis. Dokterpun berusaha menenangkan aku dan mencoba menjelaskan penyakit lupus itu apa. " Asal rutin check up, ngga apa-apa kok…tenang aja…"kata dokter seperti itu.
Setelah aku tahu aku didiagnosis lupus, aku masih tidak percaya. Apakah diagnosis kali ini betul atau salah dan apakah harus di cek ulang lagi?. Sedih dan kaget sudah pasti, sebelumnya yang ada dipikiran dan anga-anganku adalah rencana-rencana yang ingin kulakukan kedepan nanti dan tidak sabar untuk mengerjakan tugas skripsi dalam waktu dekat, tetapi setelah aku tahu aku sakit lupus, semua pikiran tentang rencana-rencana tersebut seakan tergeser dengan penyakit lupus ini yang terus menerus memenuhi pikiranku. Terutama ketakutan-ketakutan yang kurasakan dan aku pesimis apakah aku bisa menghadapi semua ini. Aku jadi ingat, awal tahun 2009 yang lalu aku sempat membaca horoskop zodiakku di salah satu majalah dan disitu tertulis bahwa aku akan menemukan kenyataan hidup di sekitar pertengahan tahun 2009 ini. Waktu itu aku sama sekali tidak memikirkan hal itu, tetapi saat ini dirasa ramalan itu benar adanya.
Aku memang sedih, mengapa hidupku harus dilalui dengan kenyataan seperti ini, tetapi aku harus bisa mengahadapi itu semua. Aku tidak mau terlihat sedih, sakit, rapuh dihadapan orang lain dan aku tidak mau orang lain tahu kalau aku sakit, cukup hanya aku dan keluargaku saja yang tahu hal ini.

"Feels like home…"
Beberapa bulan aku bisa menjalani ini semua. Aku rutin check up 2 minggu sekali setiap selasa atau kamis di poli reumatologi. Tetapi di poli disana tempat aku berobat ternyata lebih banyak pasien rematik daripada lupus, bahkan setiap kali berobat, mungkin hanya aku saja pasien lupus. Apalagi kebanyakan yang kulihat adalah pasien yang datang berobat ibu-ibu, bapak-bapak, dan lansia. Sampai pada akhirnya aku berkenalan dengan sesama penderita lupus, ia menganjurkanku untuk meminta rujukan dokter ke poli alergi karna disana khusus menangani pasien lupus. Akhirnya akupun meminta surat rujukan dokter untuk ke poli alergi, dan ternyata pada saat aku berobat ke poli alergi, aku bertemu banyak orang sesama penderita lupus yang kebanyakan semua adalah wanita. Aku senang sekali bisa bertemu dan berkenalan dengan mereka, ada yang sudah tua, muda bahkan anak kecil dan mereka bisa survive menjalani hidup secara normal selama bertahun-tahun dengan penyakit lupus. Ternyata penderita lupus banyak, dan bukan hanya aku saja didunia ini.
"Feels like home…" itulah yang tercetus dipikiranku, selama di poli alergi, setiap kali berobat aku merasa nyaman seperti layaknya dirumah, bertemu dengan sesama odapus lain dan berbagi pengalaman satu sama lain, membuatku tidak merasa sendiri didunia ini dan menjadi semakin semangat dan yakin aku bisa menjalani hidup secara normal. Maka dari itu aku harus menuruti apa kata dokter untuk rajin check up dan rutin minum obat yang diberikan dokter. Dokter memberikanku resep obat yang lumayan banyak, yaitu methylprednisolone, cloroquein, lanzoprazole, caco3, dan cavit D yang semuanya harus diminum 3x sehari dengan dosis yang berbeda-beda. Seperti methylprednisolone, sekali minum aku harus minum 3 tablet, jadi dalam sehari aku minum 9 tablet obat itu dan seumur hidupku nanti aku akan selalu minum obat. Yaa… aku harus bisa jalani ini semua.

"Aku tidak apa-apa…hanya nafsu makanku yang bertambah…"
Selama mengkonsumsi obat-obat tersebut, berangsur-angsur rasa sakit pada tulang dan persendian hilang, aku bisa menjalani aktivitas seperti biasa tanpa keluhan sakit lagi saat berjalan. Akupun merasa lebih sehat dibandingkan beberapa bulan terakhir, apalagi nafsu makanku yang sebelumnya berkurang hingga berat badanku turun, kini nafsu makanku banyak dan teratur 3x sehari dan lagi keluhan sariawan di mulutku berangur-angsur sembuh. Oleh karena itu aku berpikir orang lain tidak perlu tahu kalau aku sakit karna pada saat itu aku tidak terlihat seperti orang yang sakit, aku merasa sehat, aku bisa beraktivitas normal seperti orang yang sehat tanpa sakit dan aku pikir aku bisa meng-"keep" ini semua tanpa ada yang tahu aku penderita lupus. Meskipun sampai-sampai untuk minum obatpun aku harus sembunyi-sembunyi karena takut semuanya bertanya.
Dan kurasa semua itu dapat berjalan lancar. Tetapi beberapa bulan kemudian, aku merasakan efek dari obat yang ku konsumsi. Semakin hari semakin kulihat ada perubahan dari fisikkku, kedua pipiku jadi tembam dan semakin lama semakin besar, kedua mataku cekung, dan badanku terlihat kurus, sangat tidak seimbang dengan kedua pipiku yang besar dan tentunya orang yang melihat akan merasa aneh. Pada saat aku mengkonsultasikan kondisi ini ke dokter, dokter bilang itu karena pengaruh obat dan memang dalam masa pengobatan akan membuat kedua pipi bengkak, tetapi dokter bilang aku tidak perlu takut karena apabila dosis obat diturunkan, kedua pipiku akan kempes dengan sendirinya. Tetapi itu tidak membuatku tenang, karena setiap bertemu orang, khususnya teman-temanku, semuanya pasti melihatku dengan tatapan heran, tanpa henti mereka bertanya-tanya tentang keadaan fisikku yang berubah seperti itu dan aku selalu menjawab bahwa aku tidak apa-apa, hanya karna nafsu makanku bertambah sehingga kedua pipiku besar. Itu saja yang dapat kujawab setiap kali ditanya dan kulihat mereka masih tampak heran tidak percaya dan tanpa henti mereka selalu bertanya setiap bertemu namun aku tetap menjawab dengan jawaban yang sama bahwa aku tidak apa-apa.

foto ini di ambil pas pipiku lagi tembem2nya... yang paling sedih pas keadaan ini pas disaat orang yang mengenal aku seperti saudara jadi ngga ngeh kalo ini aku, padahal aku udah ada diantara mereka tapi mereka tetep nyari "ningrum mana?", thats the sadness moment...

"Pengungkapan diri itu penting…"
Tetapi lama kelamaan aku jadi merasa tidak nyaman apabila setiap bertemu orang selalu ditanya-tanya. Aku berpikir apakah aku harus memberitahu mereka apa yang terjadi sebenarnya? Tetapi ada rasa enggan karena setiap aku menjelaskan apa sebenarnya penyakitku aku jadi kembali seidh dan terus memikirkan penyakitku. (Saat itu, aku hanya berani memberitahu 4 teman dekatku saja bahwa aku lupus) belum lagi, penyakit ini masih belum sangat familiar seperti penyakit lain, jadi aku mau tidak mau akan lelah apabila harus menjelaskan ke setiap orang satu persatu setiap kali ditanya "Apa itu lupus?".
Namun aku kembali berpikir, di satu sisi aku mungkin lelah untuk menjelaskan penyakit lupus itu tetapi di sisi lain aku akan lelah terus mengelak dari pertanyaan heran itu semua dan harus merahasiakannya. Aku kembali berpikir bahwa aku hanya butuh waktu untuk menerima ini dan rasanya sangat berat untuk bercerita kepada orang lain karena aku pasti akan menangis dan kembali terpuruk dalam kesedihan dan lagi aku takut apabila orang lain tahu kalau aku sakit, perlakuan mereka terhadapku akan berubah. Aku tidak mau membuat orang lain repot, aku tidak mau mereka menganggap aku sakit dan perlu dikasihani, aku takut mereka risih ada didekatku meskipun sudah jelas penyakit ini tidak menular, dan aku takut sakitku ini dijadikan alasan dari segala aktivitas yang ingin kulakukan bersama orang normal lainnya. Itulah berbagai alasan yang membuatku enggan membiarkan orang lain tahu bahwa aku lupus.
Namun aku kembali berpikir, tidak ada gunanya meng-"keep" semua ini sendiri, toh lama–kelamaan pasti semua akan semakin heran dan tahu, apalagi dengan kondisi kedua pipiku yang semakin lama semakin membengkak. Dan kupikir, setidaknya, ada baiknya mereka perlu tahu aku sakit apa dan tahu bagaimana kondisiku sekarang karena seiring berjalannya waktu mereka pasti mengerti dan aku juga orang lain akan terbiasa dengan kondisi seperti ini. Akupun berinisiatif untuk mem"posting" tulisan di wall post facebook perkumpulan teman-teman satu jurusan di kampusku yang berisi :

2all My friends:Mgkn tmn2 akhr2 ini byk yg b'tny2 knp Ayu pipi'a tembem,tp badan'a kurus, mata'a cekung & tlihat seperti sakit…?
sbnr'a "Ya" ayu memang sakit n saat ni dlm masa pgobatan,sejak april lalu ayu ddiagnosis Lupus SLE (systemic lupus erythemathosus) penyakit ap tu?ini pnyakit imonologi daya thn tbh,pnykt ini bmula saat ayu pny keluhan nyeri tulang(slebih'a bc note aq j y)yg ptg penyakt ni g nular kok.
maaf y,bwt kalian yg terus btanya2 heran,ayu cm butuh wkt bwt cerita krn ayu pun jujur msh kaget,yg penting tmn2 anggap aku biasa aj,jgn prnh anggap kl aku sakit,krn ayu pun Alhamdulillah saat ni merasa lbh sehat dr yg kemarin2..

Ok,bwt tmn2 yg bsemangat n sll mberi smangat…

Thx

xoxo…
Tidak lupa aku juga mem-posting semacam note yang menjelaskan secara garis besar apa itu penyakit lupus. Tidak berapa lama kemudian, comment di wall post yang aku tulis muncul satu persatu dari teman-teman dan ternyata mereka banyak memberikanku dukungan dan semangat untuk yakin dapat sembuh. Aku jadi sedikit tenang dan senang karena mereka "welcome" terhadap kondisi aku yang sekarang. Yang penting saat ini semua temanku mengerti akan kondisiku, aku tidak perlu lagi menjelaskan yang sebenarnya apa sakitku, aku tidak perlu malu dan mengelak setiap ditanya dan aku harap mereka tidak menganggap bahwa diriku ini sakit dan perlu dikasihani, aku tidak suka diperlakukan seperti itu…

"Ya… pengungkapan diri itu kadang penting untuk mencurahkan perasaan dan kondisi yang kemudian akan membuat kita tenang dan nyaman dalam menghadapi masalah, karena berawal dari pengungkapan diri itu pasti selalu ada dukungan yang menyertai…"

Lupus… Full of surprise
Lupus…adalah suatu penyakit yang penuh dengan kejutan. Aku memang bisa menjalani semua aktivitas seperti biasa tetapi apabila kelelahan, suatu saat penyakit ini akan kambuh dan kembali aktif. Seperti beberapa waktu yang lalu aku sempat sesak nafas tetapi kemudian sembuh, kemudian juli kemarin aku didiagnosis bahwa ginjalku bocor, karena berdasarkan hasil tes urin kwantitatif 24 jam tertulis protein yang keluar lewat urinku 1176 ml/24 jam, padahal dalam batas normal protein yang keluar adalah dibawah 100 ml/ 24 jam dan aku harus segera di biopsy. Apabila tidak di biopsi, khawatir fungsi ginjal menjadi menurun.
Masya Allah… aku kaget setelah dokter bilang seperti itu. Biopsi? Apa itu? Aku sudah membayangkan semua hal yang mengerikan dari kata 'biopsi'. Kemudian dokter menjelaskan bahwa biopsi adalah semacam operasi kecil dengan menggunakan suatu alat berbentuk jarum yang ditusukkan di bagian pinggang belakang untuk mengambil sample bagian ginjal untuk diperiksa dan nanti akan diberikan obat yang sesuai dengan kondisi ginjal. Akupun semakin kaget karena aku tidak pernah di operasi dan takut sekali apabila kini aku harus di biopsi.
Karena takut, tidak berani, dan juga tidak siap untuk di biopsi akupun mengulur-ulur waktu untuk tidak check up, karena apabila check up pasti dokter menyuruhku untuk konsultasi ke ginjal dan biopsi. Sampai pada akhirnya kurang lebih sebulan aku tidak check up, lalu akupun memberanikan diri ke poli ginjal untuk sekedar mengkonsultasikan ginjalku. Setelah konsultasi, dokter menyarankanku untuk USG terlebih dahulu dan dokter memberikanku obat untuk ginjal yaitu cellcept yang efeknya akan terlihat setelah sebulan. Kemudian setelah sebulan aku pengobatan cellcept, ku kembali ke poli ginjal dengan membawa hasil USG. Hasil USG ginjalku normal, kemudian dokter menyuruhku untuk tes urin kembali dalam 24 jam, dan alhamdulilah begitu kulihat hasilnya, protein dalam urinku turun yang semula 1176 ml/24 jam menjadi 60 ml/24 jam dan alhamdulilah, kemudian dokter tidak menyarankanku untuk biopsi.

Dokter bilang, penyakit ini rentan akan stress, jadi aku dianjurkan untuk tidak terlalu berat memikirkan suatu masalah terutama menyangkut penyakit ini. Akupun berusaha untuk tidak stress dengan menyibukkan diri beraktivitas, seperti kuliah, mencari bahan skripsi, dan mengajar di laboratorium kampus sebagai asisten. Semua itu kulakukan untuk menghindari stress. Waktu itu aku berpikir bahwa aku harus sibuk agar aku tidak stress, karena apabila aku hanya berdiam diri dan tidak mengerjakan apa-apa, aku pasti melamun dan pasti akan memikirkan penyakitku. Tetapi selama aku asyik menyibukkan diri, selama itu aku lupa untuk memikirkan dampak dari kesibukkan itu, yaitu kelelahan. Ternyata terlalu sibuk tidak baik untuk kesehatanku. Alhasil aku sempat drop karena kelelahan, aku jadi sering bolos kuliah, izin dari kegiatan asisten di kampus, dan tidak konsentrasi terhadap apapun, khususnya skripsiku. Bahkan beberapa waktu lalu aku sempat dirawat. Aku dianjurkan untuk tidak terlalu capek dan tidak dianjurkan puasa karena penyakitku ini masih sangat baru dan labil, jadi harus rutin minum obat 3x sehari.
Memang sedih, karena tidak bisa ikut menikmati ramadhan tahun ini bersama-sama. Tetapi aku tetap terus beribadah sebisaku dengan shalat dan lupa berdoa. Bukan hanya sedih karna tidak puasa, aku juga sedih karena harus merelakan sesuatu yaitu meninggalkan kegiatan asisten di laboratorium kampusku. Padahal sudah sejak lama dari awal pertama kuliah aku begitu menginginkan pekerjaan itu. Tetapi kini aku harus memprioritaskan kesehatanku terlebih dulu agar lebih baik. Aku harus rajin check up, kontrol kesehatan di rumah sakit dan tidak boleh terlalu lelah. Yaa… aku harus bisa merelakan keinginanku itu, tetapi suatu saat nanti setelah kesehatanku mulai membaik, aku akan mulai menyibukkan diri dengan kegiatan yang lain. Aku sering melihat dan mendengar dari temn-teman odapus lain, mereka bisa sibuk dan melakukan banyak kegiatan. Akupun harus bisa seperti itu. Tetapi butuh waktu untuk itu karena saat ini aku harus focus pada kesehatan dan slow but sure… konsentrasi pada skripsi.

Show must go on…
Hidup ini memang penuh dengan kejutan, kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di kemudian hari. Tahun ini, Allah memberikanku begitu banyak kejutan. Tetapi aku tidak menganggap kejutan itu sebagai cobaan, aku menganggap kejutan itu sebagai amanah dan petunjuk bagiku untuk menjadi lebih baik dengan tidak lupa mengingat Allah.
Aku tidak boleh sedih terus-menerus, karena aku tidak sendirian di dunia ini, penderita lupus di dunia ini banyak dan mereka bisa kuat dan survive.

"You just have to keep on breathing because tomorrow the sun will rise n who knows ehat the tide will bring.." –Cast Away (the movie)-

Keyakinan itu memang harus ada, aku memang harus menerima tetapi tidak boleh pasrah begitu saja. Aku perlu ikhtiar bagaimana sebisaku dengan berusaha di jalan Allah, berdoa dan Allah pasti maha menyembuhkan. Aku yakin para dokter ahli di luar sana pasti tiada henti berusaha mencari obat untuk lupus.

"Nothing is permanent in this wicked world, not even our troubles.."
-Charlie Chaplin-
Saat ini aku memang dalam pengobatan, kedua pipiku besar dan orang pasti aneh melihatnya. But so..what?? aku teringat akan kata-kata dari Oprah winfrey

"You just as big as you feel… so just spread your wings !.. anger is the poison that you drink everyday and yet expecting other people to die…"

"everyone is like a butterfly they start out ugly n awkward n then morph into beautiful gracefull butterflies that everyone loves..." -Drew Barrymoore-

6 komentar:

  1. Hey, makasih ya stlh baca blog ini aku jd semangat!:D aku pengidap penyakit RA, dan rasanya sama. Awalnya malu punya penyakit ini karena serasa hanya aku yg mengidap penyakit ini, walau sampai skrg temen2 blm pd tau aku pny penyakit ini:(tapi, aku jd sadar bahwa yg punya masalah penyakit bkn aku aja, tp jg banyak orang di luar sana. Ngomong2, apa penyakit lupus itu msh menyerang? cepet sembuh ya untuk km, berjuaang!:)

    BalasHapus
  2. haaaaiii salam kenal, iya sama sama.... ngmg2 RA itu sakit apa yaa? hehe ga usah malu mba mba sama sakitnya, tetap semangat yaaahhh.... kl sekarang alhamdulilah lebih sehat kok, harus banyak bergerak biar ga kaku lagi tulangnya dan jangan klupa minum obaattt.... heheheheee

    BalasHapus
  3. aku baru buka blognya mbak pas nyari bahan tugas psikologi, eh ada artikel menarik aku baca deh.
    semangat ya mbak !!! penyakit harus dilawan mbak, aku kenak kista mbak. tapi akhir 2013 kmarin baru diambil, alhamdulillah gak sakit lagi perutnya.
    penyakit kalo dinget bikin tambah parah mbak. semangat ya mbaak !!! GBU \(m)/

    BalasHapus
  4. Informasi yang bermanfaat...dan tetap semangat mba....hanya ingin berbagi informasi, ttg TRANSFER FACTOR,silahkan dibaca web kami www.4LifeTransferFactorIndonesia.com

    Satu2nya produk berbahan riset dan paten internasional sebagai nutrisi alami untuk menstabilkan sistem imun yang berlebih (overactive immune)

    BalasHapus
  5. Informasi yang bermanfaat...dan tetap semangat mba....hanya ingin berbagi informasi, ttg TRANSFER FACTOR,silahkan dibaca web kami www.4LifeTransferFactorIndonesia.com

    Satu2nya produk berbahan riset dan paten internasional sebagai nutrisi alami untuk menstabilkan sistem imun yang berlebih (overactive immune)

    BalasHapus
  6. Thanks for share.. Aku pun odapus sudah sejak 2012.. Gejala kita sama.. Alhamdulillah aku skrg sudah punya anak 1 walau sempat keguguran 2x... Kita gak sendiri... Tetep semangat! ikhtiar dan istiqomah...aku ikut YLI sama mnak tiara di rs kramat..sgt byk manfaatnya ikut YLI..

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...