Minggu, 23 Januari 2011

Classic Question in human life

"Pertanyaan klasik"Apa sih yang sering orang-orang pertanyakan dari hidup kita? Setelah saya tanya-tanya dari orang-orang, akhirnya ada beberapa pertanyaan yang suka banget ditanyain sama orang-orang, saya sebut pertanyaan ini adalah pertanyaan klasik. Seperti contohnya : kapan lulus? Udah kerja?Kapan nikah? Kapan punya anak? Atau kapan punya adik? Hehehe (mirip salah satu iklan ya?) banyak juga yang sedikit kesal, sebel atau malah seneng ditanyai seperti itu, tapi mungkin banyakan sebelnya ya…soalnya mungkin pas ditanya terus “kapan lulus?” kita emang lagi sebel-sebelnya sama tugas akhir yang tak kunjung selesai, entah susah contact dosen, tulisan skripsi yang masih salah-salah, susah nyari bahan skripsi,dan belum lagi mungkin skripsinya mandek di tengah jalan, sebel-sebel itulah yang bikin kita makin sebel ditanyain “kapan lulus?” soalnya ya kita juga ngga tau kapan kita lulus juga. Ada lagi yang ditanya kapan nikah? Disaat mungkin kakak-kakak udah punya family atau baru kawin pasti dengan cepatnya orang-orang menanyakan hal ini, gile ya pacar aja belum punya, jomblo, atau baru putus, pasti makin senep ditanya seperti ini. Nah dari kapan nikah itu, bagi yang sudah menikah pasti yang ditanya kapan punya anak? Punya adik? Biasanya yang nanya pertanyaan adalah orang-orang yang lebih dekat seperti orang tua atau anak yang minta adik, paling ribet pasti kalau ditanya begini.
Tapi ada sisi positifnya juga pertanyaan-pertanyaan menjelimet ini, yaitu membuat kita termotivasi untuk segera mewujudkan apa yang ditanya orang-orang sama kita, karena dari sebel juga males ditanya terus dan kepengen ngga ditanya-tanya lagi setelah kita jawab
“udah lulus donk, bulan depan wisuda..!!”
pasti bangga banget pas kita jawab ini. Kita juga harus menghadapi pertanyaan ini dengan sabar dan benar, misalnya ditanya kapan lulus itu tadi, kita bisa menjawab “sedang sibuk ngerjain skripsi nih”, trus kalo ditanya lagi kita jawab, “lagi bab I/II/III/IV dst” dengan kita menjawab begitu, orang lain pun tahu atau mengerti dengan kita dan orang lainpun jadi tahu kemauan kita, dan kemajuan kita dalam menyelesaikan skripsi itu, dengan begitu orang lainpun percaya dan mendukung kita untuk terus bersemangat, jadi yang tadinya bertanya “kapan lulus?” dengan nada sedikit meledek atau cemas, kini berubah dengan pertanyaan “Udah nyampe mana skripsinya, mau dibantuin ngga?” hehehe….    
Tapi dari pertanyaan-pertanyaan klasik itu, jujur…saya seumur hidup ngga pernah ditanya “kapan lulus?”, malah yang sering ditanya adalah “Emang udah lulus? Kapan kuliahnya?” hehe…akupun bingung jawabnya, disaat orang lain sebel ditanya “kapan lulus?” kok aku ditanya kaya gitu? Entahlah. Dan dari pertanyaan-pertanyaan klasik itu, syukurlah belum ada yang nanya “kapan nikah?” padahal kakak-kakak saya udah ber-family semua (aneh) tapi mungkin bakal ditanya terus menerus.

Rabu, 19 Januari 2011

LUPUS SLE,

LUPUS, apa itu lupus?
apakah menular?
berbahayakah?
kebanyakan smw org btnya2 seperti itu, begitu juga saat aku ddiagnosis tkena penyakit ini, aku sama sekali tidak tahu ini penyakit apa..
Lupus memang belum byk dkenal diIndonesia,akibat'a sering penderita datang ke dokter sdh dlm keadaan tlambat / sdh tmbul komplikasi. Sebenarnya lupus dpt diobati atau plg tidak dpt dkontrol. Apabila diobati dgn baik, penderita umumnya dpt mengalami hidup ini seperti org normal.

Apakah lupus itu?
Lupus merupakan penyakit autoimun artinya penyakit yg disebabkan oleh karena kekebalan tubuh menyerang organ-organ tubuhnya sendiri. Lupus dikatakan “Great Imitator” alias peniru ulung, atau juga disebut sebagai penyakit seribu wajah karena menyerupai penyakit lain (mimikri). Dalam keadaan normal, system kekebalan tubuh seharusnya ditujukan melawan kuman, bakteri, virus dan lain sebagainya yang masuk dan merugikan tubuh. Ibarat tentara seharusnya melindungi negaranya, tetapi dalam keadaan tdk normal justru menyerang pemerintahnya sendiri.kl dicontohin sperti pd film "300" ttg tentara Sparta, disitu ada beberapa tokoh yg tenyata berkhianat sm negaranya sendiri, slh satu'a tokoh ephialtus.
Lupus ada 2 jenis :
· Lupus discoid, yaitu bercak kemerahan seperti ruam-ruam dkulit tmasuk kulit kepala. Jenis ini termasuk jinak n jarang berkembang menjadi SLE.
· SLE (systemic lupus erythemathosus), yaitu selain mengenai kulit, juga menyerang organ-organ tubuh lainnya.
Beratnya penyakit berbeda dari satu penderita ke penderita lainnya. SLE dpt mbahayakan jiwa pderita bila menyerang organ otak, ginjal atau organ lainnya. Meskipun demikian dgn pgobatan yg baik, pbaikan / pngendalian pnyakit msh mgkn dlakukan, shingga pderita msh dpt mnikmati hidupnya dgn baik. =)

Penyebab lupus
Sampai sejauh ini belum ada penyebab yag pasti tetapi yang jelas ddalam tubuh penderita ditemukan zat anti thdp tubuhnya sndiri. Beberapa factor diduga ikut berperan terjadinya lupus seperti hormone esterogen, infeksi virus, obat, cahaya, genetic & mgkin keturunan.

Siapa saja yang dapat terkena lupus ?
Lupus dapat mengenai siapa saja, mengenai 1 diantara 2000 orang, dipengaruhi secara genetis, gen tersebut dapat diturunkan walau tak semuany yang punya gen tersebut akan sakit, lebih sering dialami wanita dibanding pria (9:1), sebagian besar penderita berusia 15-40 tahun, lebih banyak dijumpai pada orang Afrika, Asia dan Hispanik dibanding keturunan Eropa berkulit putih, dan risiko pada keluarga ODAPUS (orang yang menderita lupus) lebih tinggi dibanding masyarakat umumnya.

Tanda dan Gejala Penyakit Lupus
Gejala dan tanda beragam, tidak spesifik, dapat muncul suka-suka atau perlahan, dapat ujug-ujug muncul ataupun didahului faktor yang mungkin menjadi pencetus. Maka dari itu penyakit ini sering disebut sbg penyakit seribu wajah.
Paling sering dikeluhkan penderita lupus adalah nyeri sendi jari-jari tangan, pergelangan tangan, siku, lutut, bahu, dan pergelangan kaki secara simetris, nyeri bertambah jika cuaca dingin.
Sering diawali dengan gejala sering demam hilang timbul, rasa lelah, lemah, dan berkurangnya berat badan. Rasa letih, lemah bisa timbul akibat anemia yang disebabkan oleh penyakit lupus ini.
Pada kulit sering timbul ruam kemerahan di kedua pipi seperti gambaran kupu-kupu (butterfly rash), leher, dan anggota gerak, atau pada tubuh, dicetuskan atau diperberat oleh paparan sinar matahari. Rambut sering rontok bisa sampai botak dan penderitapun sering mengeluh sariawan.
Pada proses penyakit yang lebih lanjut dapat mengenai organ-organ lain, seperti adanya nyeri dada terutama saat batuk, sesak nafas, adanya peradangan ginjal bisa kita ketahui dengan pemeriksaan air seni.
Pada syaraf dapat terjadi perubahan tingkah laku (depresi, psikosis), kejang-kejang, rasa baal atau kesemutan.

Bagaimana dokter menetapkan Diagnosis ?
Dokter dapat menetapkan Diagnosis bila didapatkan 4 dari 11 kondisi di bawah ini, yaitu :
1. Ruam kulit yang berbentuk lonjong/ bulat pada wajah atau tempat lain
2. Sariawan
3. Fotosensivitas : tidak tahan terhadap paparan sinar matahari,
4. Nyeri-nyeri sendi,
5. Ruam merah pada kedua belah pipi,
6. Petanda imunologis : sel lupus, anti dsDNA, anti Sm, positif, atau VDRL
7. Kelainan sistem saraf,
8. Gangguan pada ginjal : dapat diketahui dari pemeriksaan laboratorium pada pemeriksaan urin.
9. Tes ANA positif
10. Nyeri dada bila tarik nafas, sesak nafas, yang disebabkan peradangan selaput paru atau lapisan jantung
11. Kelainan darah: anemia hemolisis, trombositopenia, leukopenia, limfopenia.
2. Terapi : sesuai dengan yang dianjurkan dokter

BAGAIMANa SEHAT BERSAMA LUPUS?
* Kontrol berkala ke dokter.
* Minum obat teratur yang diberikan oleh dokter
* Membiasakan gaya hidup sehat yaitu memperhatikan keadaan fisik dan psikis, seperti: berpikiran sehat, jiwa sehat, tubuh sehat, selalu berpikir positif, mengelola stress.
* Nutrisi yang seimbang.
* Cukup latihan/ olahraga dan istirahat
* Cegah kelelahan yang berlebihan
* Menghindari rokok, sinar matahari
* Hindari situasi atau keadaan yang membuat stress
* Dukungan psikososial dari lingkungan dan edukasi yang bersifat positif dan realistis juga merupakan salah satu kunci sukses pengobatan.

Penyakit ini memang belum ada obatnya, tapi msh bisa teratasi & diredam gejala'a, untuk itu harus sering sering check up ke dokter. Yang paling penting bagi seseorang yang terdiagnosis Lupus (ODAPUS) seperti aku adalah menerima kenyataan dan menghadapinya dengan tetap berdoa & meminta plindungan kepada Allah, bijak dalam menyikapi informasi dan saran, tekun dan tabah menjalankan ikhtiar, karena itulah kewajiban kita, berkonsultasi kepada orang yang ahli, atur kehidupan, berharaplah kepada Allah Yang Maha Menyembuhkan. Ini bukanlah suatu masalah besar yang harus ditakuti…msh byk rencana, kesempatan & tantangan2 lain yang bisa kulakukan saat ini dan kedepan nanti… Cheers…!!!!

By Yayasan Lupus Indonesia, dan berbagai sumber lainnya…

interpersonal attraction

i can say that, interpersonal attraction adalah salah satu variabel psikologi yang aku pakai saat ngerjain skripsi, jujur deh, susah banget nyari dan ngumpulin teori ini, tapi pd akhirnya dapat juga dari berbagai sumber, makasih yaaa....tapi yang aku pakai di skripsi aku ini memakai judul bahasa indonesianya, interpersonal attraction in bahasa means daya tarik interpersonal atau atraksi interpersonal. ini dia semoga bermanfaat...

Daya Tarik Interpersonal/Interpersonal Attraction
(semoga ini bermanfaat, tapi apabila ingin mengcopy tulisan ini, ada baiknya anda juga mencari langsung dari sumber-sumber yang saya pakai di bawah, OK!l)

Berscheid & Walster (1978) mengatakan bahwa daya tarik interpersonal merupakan sikap (positif atau negatif) seseorang terhadap orang tertentu. Kemudian Berscheid & Walster (1978) mengartikan daya tarik interpersonal sebagai kecenderungan seseorang untuk mengevaluasi orang lain atau tanda-tanda orang tersebut ke dalam suatu cara positif (atau negatif).
Baron dan Byrne (Irwanto dkk., 1991) menyebutkan bahwa daya tarik interpersonal adalah suatu evaluasi yang dibuat seseorang pada orang lain di sepanjang dimensi sikap positif dan negatif yang menunjukkan tingkat dari rasa suka yang dibuat sampai rasa yang tidak disuka. Daya tarik mengacu pada suatu usaha untuk mengidentifikasi secara detail mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi evaluasi seseorang terhadap orang lain.
Newcomb (2002) menjelaskan daya tarik interpersonal sebagai pengekspresian dalam pembagian antara perasaan suka dan tidak suka.
            Horton dan Montoya (2004) menjelaskan bahwa daya tarik berdasarkan evaluasi dari kualitas individu yang pada gilirannya dapat dibuktikan oleh jenis tanda-tanda seperti kesamaan sikap, kualitas positif, dan daya tarik fisik.
            Brehm & Kassin (dalam Dayakisni, 2009) mengartikan daya tarik interpersonal sebagai istilah yang digunakan untuk merujuk secara khusus keinginan seseorang untuk mendekati orang lain. Pengertian yang hampir sama juga dikemukakan Brigham (dalam Dayakisni, 2009) yaitu kecenderungan seseorang untuk menilai seseorang atau kelompok secara positif untuk mendekatinya dan berperilaku positif padanya.
            Kemudian Dayakisni (2009) mengartikan daya tarik interpersonal adalah suatu proses bagaimana orang dapat saling tertarik, saling mengenal, bagaimana ada gairah tarik menarik satu sama lain.
            Dari beberapa pengertian para tokoh mengenai daya tarik interpersonal, maka dapat disimpulkan bahwa daya tarik interpersonal adalah suatu evaluasi perasaan yang dibuat seseorang yang merujuk secara khusus keinginan seseorang untuk mendekati orang lain berdasarkan kualitas positif yang dimiliki, dimana setiap individu memiliki derajat perasaan tersendiri yang mungkin berbeda dengan individu lain.

1.      Prinsip-prinsip Daya Tarik Interpersonal
Berscheid (1978) menyimpulkan bahwa manusia cenderung menggambarkan keadaan disekitarnya sebagai rewarding atau punishing. Gejala ini dapat dilihat sebagai reaksi seseorang terhadap orang lain berdasarkan konsekuensi positif atau negatif yang dialami akibat adanya manusia lain tersebut. Beberapa teori yang menjelaskan daya tarik interpersonal, yaitu teori reinforcement, dan model Byrne & Clore.
a.       Teori Reinforcement
            Prinsip dasar dari teori belajar adalah penguatan (reinforcement). Seseorang menyukai orang lain dengan cara memberi ganjaran sebagai penguatan dari tindakan atau sikap kita. salah satu tipe ganjaran yang penting adalah persetujuan sosial, dan banyak penelitian yang memperlihatkan bahwa seseorang cenderung menyukai orang lain yang cenderung menilai kita secara positif.
Daya tarik interpersonal atau interpersonal attraction banyak berdasar pada pendekatan teori reinforcement (Berscheid, 1978). Teori ini menjelaskan sesuatu yang memberi kenikmatan atau kepuasan (rewarding) akan meningkatkan tingkah laku atau dengan kata lain reward berfungsi sebagai penguat tingkah laku (reinforcer). Prinsip ini mendasari teori-teori tentang ketertarikan interpersonal, yaitu seseorang menyukai orang yang memberi atau mengakibatkan reward, dan tidak menyukai orang yang memberi atau mengakibatkan punishment.
Ada dua macam pengaruh yang dikandung oleh reinforcement, yaitu reinforcement positif dan reinforcement negatif. Disebut reinforcement positif apabila pengaruhnya meningkatkan tingkah laku. Sebaliknya disebut reinforcement negatif apabila ketiadaannya berpengaruh meningkatkan tingkah laku. Berdasarkan nilai reinforcer, terdapat 2 macam konsekuensi lain, yaitu reinforcer yang bersifat menyenangkan sehingga tingkah laku untuk mendapatkannya meningkat, dan reinforcer yang tak menyenangkan sehingga frekuensi kemunculan tingkah laku menurun. Reinforcement menyenangkan disebut sebagai reward sementara reinforcer yang tak menyenangkan disebut sebagai punishment.

b.Model Byrne & Clore
Teori yang mendasarkan formulasinya pada hukum-hukum belajar menyatakan bahwa rasa suka dan tak suka antar pribadi merupakan respons-respons yang dipelajari (Irwanto dkk, 1991). Teori yang berhubungan dengan reward-punishment banyak mendasari pemikiran mengenai ketertarikan interpersonal. Pada dasarnya orang cenderung menyukai pihak yang memberi kenikmatan atau reward padanya. Tetapi pada kenyataannya, suatu reward tidak harus berupa kenikmatan. Banyak hal yang pada hakikatnya dirasakan sebagai rewarding sehingga mempengaruhi daya tarik interpersonal seseorang terhadap orang lain.
Byrne dan Clore mengajukan teori yang disebut Reinforcement-Affect Model. Menurut Byrne-Clore Reinforcement-Affect Model (Berscheid, 1978), evaluasi suka atau tidak suka terhadap orang lain didasarkan pada perasaan (feelings) yang diasosiasikan terhadap orang tersebut. Dengan kata lain, mereka menyatakan bahwa evaluasi kita terhadap segala hal, termasuk orang lain didasarkan pada perasaan positif atau negatif yang sedang kita alami saat itu (Irwanto dkk, 1991). Perasaan tersebut tidak harus merupakan reaksi langsung terhadap tindakan nyata orang itu, melainkan berdasar pada asosiasi yang timbul dalam diri sendiri berdasarkan pengalamannya dalam situasi lain.
Baron dan Byrne (dalam Berscheid, 1978) telah membuat rangkuman mengenai prinsip-prinsip dasar Byrne-Clore Reinforcement-Affect Model, yaitu:
1)      Sebagian besar stimulus yang diterima dapat diidentifikasikan sebagai rewarding atau punishing. Manusia cenderung menghampiri stimulus yang menyenangkan dan menghindari stimulus yang tidak menyenangkan. Manusia juga mempelajari tingkah laku yang memungkinkannya mendapat stimulus menyenangkan lebih sering, dan mempelajari tingkah laku yang memungkinkannya mendapatkan stimulus tak menyenangkan seminimal mungkin.
2)      Stimulus yang merupakan rewarding membangkitkan perasaan positif, sementara stimulus yang merupakan punishing menimbulkan perasaan negatif.
3)      Evaluasi terhadap stimulus tersebut dapat berupa baik-buruk, menyenangkan atau tidak menyenangkan, tergantung pada perasaan yang ditimbulkannya, negatif atau positif. Kekuatan dari perasaan yang ditimbulkan itu tercermin melalui bagaimana seseorang mengekspresikan baik atau buruk  pengevaluasian.
4)      Melalui suatu proses conditioning sederhana, rangsang-rangsang stimulus yang netral bila dihubungkan dengan rewarding dan punishing akan mempunyai kapasitas untuk menimbulkan perasaan positif atau negatif, oleh karena itu akan disukai atau tidak disukai.

2.      Elemen-elemen Daya Tarik Interpersonal
            Pada dasarnya manusia memiliki kecenderungan untuk selalu menilai sesuatu (Berscheid & Walster, 1978). Byrne & Clore (dalam Bercheid & Walster, 1978), mengemukakan bahwa sebagian besar stimulus dapat diidentifikasikan sebagai hadiah atau hukuman. Bagaimana ketertarikan dapat terbangun selalu bermula dari reward yang diberikan oleh orang lain. Reward yang disediakan oleh orang lain dalam interaksi yang terjalin diuraikan Berscheid & Walster (dalam Nurfitri, 2008) ke dalam lima elemen, yakni :
a.       Proximity
Ketertarikan dan kedekatan merupakan dua hal yang terkait. Hal ini dikarenakan, pertama, kedekatan membuat bertambahnya kemungkinan untuk memperoleh informasi, baik pro ataupun kontra, mengenai orang lain. Walaupun, Newcomb (dalam Berscheid & Walster, 1978) mengungkapkan proximity lebih cenderung menghasilkan perasaan suka dibanding sebaliknya, karena cenderung memberikan informasi yang menyenangkan.
Alasan kedua yang mengakibatkan proximity terkait dengan ketertarikan adalah munculnya faktor kebersamaan. Karena intensitas bertemu yang sering cenderung akan menghasilkan rasa kebersamaan sebagai satu kesatuan. Sebagai contoh adanya perasaan satu keluarga, teman satu sekolah, ataupun tetangga satu komplek perumahan. Adanya rasa kebersamaan membuat mereka merasa memiliki satu sama lain sebagai satu kesatuan. Perasaan sebagai satu kesatuan inilah yang akhirnya menyebabkan perasaan suka terhadap orang lain.
b.      Reciprocity of liking
Penelitian yang dilakukan Newcomb, Mette & Aronson (dalam Berscheid & Walster, 1978) menunjukkan adanya kecenderungan bahwa individu akan merasa tertarik pada orang yang menyukainya. Hal ini diakibatkan adanya kecenderungan untuk mencari persetujuan dari orang lain. Persetujuan sosial telah menjadi penguat dari berbagai aktivitas manusia karena social approval (persetujuan sosial), seperti halnya uang, merupakan penguat yang bersifat situasional yang sangat kuat. Kebutuhan akan persetujuan sosial itulah yang akhirnya membuat individu cenderung menyukai orang yang memberikan ganjaran berupa perasaan suka dan sebaliknya. Selain itu, hukum timbal balik atas perasaan suka juga menghasilkan keyakinan bahwa orang yang ia sukai juga menyukai dirinya.

c.       Similarity
Manusia cenderung menyukai orang yang memiliki kesamaan dengan dirinya. Hal tersebut dikarenakan munculnya kepuasan saat ia merasa orang lain memiliki kesamaan sikap dan keyakinan seperti yang ia miliki (Berscheid & Walster, 1978). Kecenderungan untuk menyukai seseorang yang memiliki kesamaan muncul karena adanya dorongan untuk menyukai diri kita sendiri. Adanya rasa suka terhadap diri sendiri, membuat manusia akan menyukai orang lain seperti ia menyukai dirinya sendiri.
      Selain cenderung tertarik dengan orang yang menunjukkan kesamaan dengannya, individu juga cenderung merasa memiliki kesamaan dengan orang yang ia sukai. Hal ini dapat terlihat dari adanya keyakinan bahwa terdapat lebih banyak kesamaan pribadi antara ia dan orang yang ia anggap sebagai teman, dibandingkan orang lain. Sehingga muncul anggapan bahwa individu menjadi serupa dengan orang lain sebagai akibat dari hubungan yang terjalin diantara keduanya. Menurut Berscheid & Walster (1978) terdapat beberapa jenis kesamaan yang memiliki kaitan dengan ketertarikan, yaitu : kesamaan sikap, kesamaan kepribadian, kesamaan karakteristik fisik, kesamaan pendidikan dan kecerdasan, serta ciri-ciri sosial lain seperti latar belakang keluarga, agama, dan hobby.
d.      Reduction of fear, stress, and isolation
Pada dasarnya manusia tidak menyukai kesendirian, adanya pengasingan sosial seperti dalam penjara pasti menimbulkan ketidaknyamanan. Karena semenjak kecil individu telah menumbuhkan rasa kebutuhan untuk ditemani oleh orang lain. Kebutuhan akan keberadaan orang lain inilah yang membuat keterasingan dari orang lain menjadi situasi yang memberatkan. Bahkan, saat seseorang benar-benar terisolasi, banyak ditemukan kasus bahwa mereka dengan sengaja berhalusinasi mengenai kehadiran orang lain (Berscheid & Walster, 1978).
Hasil penelitian Scachter (dalam Berscheid & Walster, 1978) menunjukkan bahwa saat kita merasa cemas, takut dan kesepian maka kehadiran orang lain menjadi sebuah hadiah. Ketakutan bisa menjadi penguat untuk berafiliasi dengan orang lain. Menurut Berscheid & Walster (1978) hal tersebut diakibatkan oleh beberapa sebab seperti keinginan untuk mencari solusi untuk keluar dari ketakutan, hanya sekedar berbagi pengalaman, kebutuhan pengalihan atau ketakutan yang ia rasakan, serta kebutuhan untuk mengevaluasi emosi serta perasaan yang ia rasakan. Sehingga saat seseorang merasakan adanya ketakutan, maka kehadiran orang lain menjadi reward yang positif.
e.       Cooperation
Seringkali orang lain tidak memberi ganjaran secara langsung. Ganjaran positif seringkali dirasakan lewat bantuan yang diberikan. Bantuan dinilai positif bila dapat memudahkan tercapainya suatu tujuan. Sebaliknya, menghalangi kemajuan akan cenderung diartikan sebagai ganjaran negatif (Brekowitz & Danels, Goranson & Brekowitz dalam Berscheid & Walster, 1978).
Hubungan antara kerjasama, kompetisi dan daya tarik interpersonal telah diteliti oleh Sherif et al (dalam Berscheid & Walster, 1978). Dalam hasil penelitiannya mengemukakan bahwa individu cenderung memiliki tingkat daya tarik interpersonal yang lebih tinggi terhadap orang lain dalam grup yang sama, dibanding anggota dari grup lain yang berkompetisi dengannya. Hal ini dikarenakan adanya kerjasama yang terjalin sehingga menimbulkan munculnya ganjaran positif. Penelitian itu juga menemukan bahwa saat dua grup bergabung menjadi satu dalam menyelenggarakan sebuah acara sehingga tidak lagi terjadi kompetisi, maka tingkat daya tarik interpersonal terhadap orang yang mulanya tidak berada satu grup meningkat, walaupun tetap tidak sebesar tingkat daya tarik interpersonal terhadap orang yang memang sejak awal bekerja sama dengannya.
sumber:
Berscheid, E & Walster, E. (1978). Interpersonal Attraction 2nd edition. Addison Wesley Publishing Company
Irwanto dkk. (1991). Psikologi umum buku panduan mahasiswa. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.

Newcomb, J.F. (2002). Interpersonal attraction

Horton, R.S. & Montoya, R.M. (2004). Interpersonal Relation and Group Processes On the Importance of Cognitive Evaluation as a Determinant of Interpersonal Attraction. Journal of Personality and Social Psychology. Vol 86, 5, 696-712.
Dayakisni, H. (2009). Psikologi sosial. Malang : UMM Press.
Nurfitri, A. (2008). Pengaruh interpersonal attraction pada upline terhadap motivasi bergabung dengan MLM (skripsi tidak diterbitkan). Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...