Rabu, 19 Januari 2011

interpersonal attraction

i can say that, interpersonal attraction adalah salah satu variabel psikologi yang aku pakai saat ngerjain skripsi, jujur deh, susah banget nyari dan ngumpulin teori ini, tapi pd akhirnya dapat juga dari berbagai sumber, makasih yaaa....tapi yang aku pakai di skripsi aku ini memakai judul bahasa indonesianya, interpersonal attraction in bahasa means daya tarik interpersonal atau atraksi interpersonal. ini dia semoga bermanfaat...

Daya Tarik Interpersonal/Interpersonal Attraction
(semoga ini bermanfaat, tapi apabila ingin mengcopy tulisan ini, ada baiknya anda juga mencari langsung dari sumber-sumber yang saya pakai di bawah, OK!l)

Berscheid & Walster (1978) mengatakan bahwa daya tarik interpersonal merupakan sikap (positif atau negatif) seseorang terhadap orang tertentu. Kemudian Berscheid & Walster (1978) mengartikan daya tarik interpersonal sebagai kecenderungan seseorang untuk mengevaluasi orang lain atau tanda-tanda orang tersebut ke dalam suatu cara positif (atau negatif).
Baron dan Byrne (Irwanto dkk., 1991) menyebutkan bahwa daya tarik interpersonal adalah suatu evaluasi yang dibuat seseorang pada orang lain di sepanjang dimensi sikap positif dan negatif yang menunjukkan tingkat dari rasa suka yang dibuat sampai rasa yang tidak disuka. Daya tarik mengacu pada suatu usaha untuk mengidentifikasi secara detail mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi evaluasi seseorang terhadap orang lain.
Newcomb (2002) menjelaskan daya tarik interpersonal sebagai pengekspresian dalam pembagian antara perasaan suka dan tidak suka.
            Horton dan Montoya (2004) menjelaskan bahwa daya tarik berdasarkan evaluasi dari kualitas individu yang pada gilirannya dapat dibuktikan oleh jenis tanda-tanda seperti kesamaan sikap, kualitas positif, dan daya tarik fisik.
            Brehm & Kassin (dalam Dayakisni, 2009) mengartikan daya tarik interpersonal sebagai istilah yang digunakan untuk merujuk secara khusus keinginan seseorang untuk mendekati orang lain. Pengertian yang hampir sama juga dikemukakan Brigham (dalam Dayakisni, 2009) yaitu kecenderungan seseorang untuk menilai seseorang atau kelompok secara positif untuk mendekatinya dan berperilaku positif padanya.
            Kemudian Dayakisni (2009) mengartikan daya tarik interpersonal adalah suatu proses bagaimana orang dapat saling tertarik, saling mengenal, bagaimana ada gairah tarik menarik satu sama lain.
            Dari beberapa pengertian para tokoh mengenai daya tarik interpersonal, maka dapat disimpulkan bahwa daya tarik interpersonal adalah suatu evaluasi perasaan yang dibuat seseorang yang merujuk secara khusus keinginan seseorang untuk mendekati orang lain berdasarkan kualitas positif yang dimiliki, dimana setiap individu memiliki derajat perasaan tersendiri yang mungkin berbeda dengan individu lain.

1.      Prinsip-prinsip Daya Tarik Interpersonal
Berscheid (1978) menyimpulkan bahwa manusia cenderung menggambarkan keadaan disekitarnya sebagai rewarding atau punishing. Gejala ini dapat dilihat sebagai reaksi seseorang terhadap orang lain berdasarkan konsekuensi positif atau negatif yang dialami akibat adanya manusia lain tersebut. Beberapa teori yang menjelaskan daya tarik interpersonal, yaitu teori reinforcement, dan model Byrne & Clore.
a.       Teori Reinforcement
            Prinsip dasar dari teori belajar adalah penguatan (reinforcement). Seseorang menyukai orang lain dengan cara memberi ganjaran sebagai penguatan dari tindakan atau sikap kita. salah satu tipe ganjaran yang penting adalah persetujuan sosial, dan banyak penelitian yang memperlihatkan bahwa seseorang cenderung menyukai orang lain yang cenderung menilai kita secara positif.
Daya tarik interpersonal atau interpersonal attraction banyak berdasar pada pendekatan teori reinforcement (Berscheid, 1978). Teori ini menjelaskan sesuatu yang memberi kenikmatan atau kepuasan (rewarding) akan meningkatkan tingkah laku atau dengan kata lain reward berfungsi sebagai penguat tingkah laku (reinforcer). Prinsip ini mendasari teori-teori tentang ketertarikan interpersonal, yaitu seseorang menyukai orang yang memberi atau mengakibatkan reward, dan tidak menyukai orang yang memberi atau mengakibatkan punishment.
Ada dua macam pengaruh yang dikandung oleh reinforcement, yaitu reinforcement positif dan reinforcement negatif. Disebut reinforcement positif apabila pengaruhnya meningkatkan tingkah laku. Sebaliknya disebut reinforcement negatif apabila ketiadaannya berpengaruh meningkatkan tingkah laku. Berdasarkan nilai reinforcer, terdapat 2 macam konsekuensi lain, yaitu reinforcer yang bersifat menyenangkan sehingga tingkah laku untuk mendapatkannya meningkat, dan reinforcer yang tak menyenangkan sehingga frekuensi kemunculan tingkah laku menurun. Reinforcement menyenangkan disebut sebagai reward sementara reinforcer yang tak menyenangkan disebut sebagai punishment.

b.Model Byrne & Clore
Teori yang mendasarkan formulasinya pada hukum-hukum belajar menyatakan bahwa rasa suka dan tak suka antar pribadi merupakan respons-respons yang dipelajari (Irwanto dkk, 1991). Teori yang berhubungan dengan reward-punishment banyak mendasari pemikiran mengenai ketertarikan interpersonal. Pada dasarnya orang cenderung menyukai pihak yang memberi kenikmatan atau reward padanya. Tetapi pada kenyataannya, suatu reward tidak harus berupa kenikmatan. Banyak hal yang pada hakikatnya dirasakan sebagai rewarding sehingga mempengaruhi daya tarik interpersonal seseorang terhadap orang lain.
Byrne dan Clore mengajukan teori yang disebut Reinforcement-Affect Model. Menurut Byrne-Clore Reinforcement-Affect Model (Berscheid, 1978), evaluasi suka atau tidak suka terhadap orang lain didasarkan pada perasaan (feelings) yang diasosiasikan terhadap orang tersebut. Dengan kata lain, mereka menyatakan bahwa evaluasi kita terhadap segala hal, termasuk orang lain didasarkan pada perasaan positif atau negatif yang sedang kita alami saat itu (Irwanto dkk, 1991). Perasaan tersebut tidak harus merupakan reaksi langsung terhadap tindakan nyata orang itu, melainkan berdasar pada asosiasi yang timbul dalam diri sendiri berdasarkan pengalamannya dalam situasi lain.
Baron dan Byrne (dalam Berscheid, 1978) telah membuat rangkuman mengenai prinsip-prinsip dasar Byrne-Clore Reinforcement-Affect Model, yaitu:
1)      Sebagian besar stimulus yang diterima dapat diidentifikasikan sebagai rewarding atau punishing. Manusia cenderung menghampiri stimulus yang menyenangkan dan menghindari stimulus yang tidak menyenangkan. Manusia juga mempelajari tingkah laku yang memungkinkannya mendapat stimulus menyenangkan lebih sering, dan mempelajari tingkah laku yang memungkinkannya mendapatkan stimulus tak menyenangkan seminimal mungkin.
2)      Stimulus yang merupakan rewarding membangkitkan perasaan positif, sementara stimulus yang merupakan punishing menimbulkan perasaan negatif.
3)      Evaluasi terhadap stimulus tersebut dapat berupa baik-buruk, menyenangkan atau tidak menyenangkan, tergantung pada perasaan yang ditimbulkannya, negatif atau positif. Kekuatan dari perasaan yang ditimbulkan itu tercermin melalui bagaimana seseorang mengekspresikan baik atau buruk  pengevaluasian.
4)      Melalui suatu proses conditioning sederhana, rangsang-rangsang stimulus yang netral bila dihubungkan dengan rewarding dan punishing akan mempunyai kapasitas untuk menimbulkan perasaan positif atau negatif, oleh karena itu akan disukai atau tidak disukai.

2.      Elemen-elemen Daya Tarik Interpersonal
            Pada dasarnya manusia memiliki kecenderungan untuk selalu menilai sesuatu (Berscheid & Walster, 1978). Byrne & Clore (dalam Bercheid & Walster, 1978), mengemukakan bahwa sebagian besar stimulus dapat diidentifikasikan sebagai hadiah atau hukuman. Bagaimana ketertarikan dapat terbangun selalu bermula dari reward yang diberikan oleh orang lain. Reward yang disediakan oleh orang lain dalam interaksi yang terjalin diuraikan Berscheid & Walster (dalam Nurfitri, 2008) ke dalam lima elemen, yakni :
a.       Proximity
Ketertarikan dan kedekatan merupakan dua hal yang terkait. Hal ini dikarenakan, pertama, kedekatan membuat bertambahnya kemungkinan untuk memperoleh informasi, baik pro ataupun kontra, mengenai orang lain. Walaupun, Newcomb (dalam Berscheid & Walster, 1978) mengungkapkan proximity lebih cenderung menghasilkan perasaan suka dibanding sebaliknya, karena cenderung memberikan informasi yang menyenangkan.
Alasan kedua yang mengakibatkan proximity terkait dengan ketertarikan adalah munculnya faktor kebersamaan. Karena intensitas bertemu yang sering cenderung akan menghasilkan rasa kebersamaan sebagai satu kesatuan. Sebagai contoh adanya perasaan satu keluarga, teman satu sekolah, ataupun tetangga satu komplek perumahan. Adanya rasa kebersamaan membuat mereka merasa memiliki satu sama lain sebagai satu kesatuan. Perasaan sebagai satu kesatuan inilah yang akhirnya menyebabkan perasaan suka terhadap orang lain.
b.      Reciprocity of liking
Penelitian yang dilakukan Newcomb, Mette & Aronson (dalam Berscheid & Walster, 1978) menunjukkan adanya kecenderungan bahwa individu akan merasa tertarik pada orang yang menyukainya. Hal ini diakibatkan adanya kecenderungan untuk mencari persetujuan dari orang lain. Persetujuan sosial telah menjadi penguat dari berbagai aktivitas manusia karena social approval (persetujuan sosial), seperti halnya uang, merupakan penguat yang bersifat situasional yang sangat kuat. Kebutuhan akan persetujuan sosial itulah yang akhirnya membuat individu cenderung menyukai orang yang memberikan ganjaran berupa perasaan suka dan sebaliknya. Selain itu, hukum timbal balik atas perasaan suka juga menghasilkan keyakinan bahwa orang yang ia sukai juga menyukai dirinya.

c.       Similarity
Manusia cenderung menyukai orang yang memiliki kesamaan dengan dirinya. Hal tersebut dikarenakan munculnya kepuasan saat ia merasa orang lain memiliki kesamaan sikap dan keyakinan seperti yang ia miliki (Berscheid & Walster, 1978). Kecenderungan untuk menyukai seseorang yang memiliki kesamaan muncul karena adanya dorongan untuk menyukai diri kita sendiri. Adanya rasa suka terhadap diri sendiri, membuat manusia akan menyukai orang lain seperti ia menyukai dirinya sendiri.
      Selain cenderung tertarik dengan orang yang menunjukkan kesamaan dengannya, individu juga cenderung merasa memiliki kesamaan dengan orang yang ia sukai. Hal ini dapat terlihat dari adanya keyakinan bahwa terdapat lebih banyak kesamaan pribadi antara ia dan orang yang ia anggap sebagai teman, dibandingkan orang lain. Sehingga muncul anggapan bahwa individu menjadi serupa dengan orang lain sebagai akibat dari hubungan yang terjalin diantara keduanya. Menurut Berscheid & Walster (1978) terdapat beberapa jenis kesamaan yang memiliki kaitan dengan ketertarikan, yaitu : kesamaan sikap, kesamaan kepribadian, kesamaan karakteristik fisik, kesamaan pendidikan dan kecerdasan, serta ciri-ciri sosial lain seperti latar belakang keluarga, agama, dan hobby.
d.      Reduction of fear, stress, and isolation
Pada dasarnya manusia tidak menyukai kesendirian, adanya pengasingan sosial seperti dalam penjara pasti menimbulkan ketidaknyamanan. Karena semenjak kecil individu telah menumbuhkan rasa kebutuhan untuk ditemani oleh orang lain. Kebutuhan akan keberadaan orang lain inilah yang membuat keterasingan dari orang lain menjadi situasi yang memberatkan. Bahkan, saat seseorang benar-benar terisolasi, banyak ditemukan kasus bahwa mereka dengan sengaja berhalusinasi mengenai kehadiran orang lain (Berscheid & Walster, 1978).
Hasil penelitian Scachter (dalam Berscheid & Walster, 1978) menunjukkan bahwa saat kita merasa cemas, takut dan kesepian maka kehadiran orang lain menjadi sebuah hadiah. Ketakutan bisa menjadi penguat untuk berafiliasi dengan orang lain. Menurut Berscheid & Walster (1978) hal tersebut diakibatkan oleh beberapa sebab seperti keinginan untuk mencari solusi untuk keluar dari ketakutan, hanya sekedar berbagi pengalaman, kebutuhan pengalihan atau ketakutan yang ia rasakan, serta kebutuhan untuk mengevaluasi emosi serta perasaan yang ia rasakan. Sehingga saat seseorang merasakan adanya ketakutan, maka kehadiran orang lain menjadi reward yang positif.
e.       Cooperation
Seringkali orang lain tidak memberi ganjaran secara langsung. Ganjaran positif seringkali dirasakan lewat bantuan yang diberikan. Bantuan dinilai positif bila dapat memudahkan tercapainya suatu tujuan. Sebaliknya, menghalangi kemajuan akan cenderung diartikan sebagai ganjaran negatif (Brekowitz & Danels, Goranson & Brekowitz dalam Berscheid & Walster, 1978).
Hubungan antara kerjasama, kompetisi dan daya tarik interpersonal telah diteliti oleh Sherif et al (dalam Berscheid & Walster, 1978). Dalam hasil penelitiannya mengemukakan bahwa individu cenderung memiliki tingkat daya tarik interpersonal yang lebih tinggi terhadap orang lain dalam grup yang sama, dibanding anggota dari grup lain yang berkompetisi dengannya. Hal ini dikarenakan adanya kerjasama yang terjalin sehingga menimbulkan munculnya ganjaran positif. Penelitian itu juga menemukan bahwa saat dua grup bergabung menjadi satu dalam menyelenggarakan sebuah acara sehingga tidak lagi terjadi kompetisi, maka tingkat daya tarik interpersonal terhadap orang yang mulanya tidak berada satu grup meningkat, walaupun tetap tidak sebesar tingkat daya tarik interpersonal terhadap orang yang memang sejak awal bekerja sama dengannya.
sumber:
Berscheid, E & Walster, E. (1978). Interpersonal Attraction 2nd edition. Addison Wesley Publishing Company
Irwanto dkk. (1991). Psikologi umum buku panduan mahasiswa. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.

Newcomb, J.F. (2002). Interpersonal attraction

Horton, R.S. & Montoya, R.M. (2004). Interpersonal Relation and Group Processes On the Importance of Cognitive Evaluation as a Determinant of Interpersonal Attraction. Journal of Personality and Social Psychology. Vol 86, 5, 696-712.
Dayakisni, H. (2009). Psikologi sosial. Malang : UMM Press.
Nurfitri, A. (2008). Pengaruh interpersonal attraction pada upline terhadap motivasi bergabung dengan MLM (skripsi tidak diterbitkan). Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.

5 komentar:

  1. sangat membantu.. terimakasih banyak :)

    BalasHapus
  2. Assalamualaikum.. hai lagi browsing tau-tau nyangkut di blog kamu, alhamdulillah dapat pencerahan dalam mencari teori atraksi interpersonal ini.. thank you yaa.. soalnya aku lagi cari teori atraksi interpersonal buat skripsiku :)

    salam hijabers hehe
    -Kara

    BalasHapus
  3. Assalamualaikum.. hai lagi browsing tau-tau nyangkut di blog kamu, alhamdulillah dapat pencerahan dalam mencari teori atraksi interpersonal ini.. thank you yaa.. soalnya aku lagi cari teori atraksi interpersonal buat skripsiku :)

    salam hijabers hehe
    -Kara

    BalasHapus
  4. alhamdulilah, posting ttg daya tarik interpersonal dpt membantu, hai dunia mimpi dan mbak kara, aku sering main ke blog mbak, hehe...

    BalasHapus
  5. selamat malam, mba punya buku atau ebooknya berscheid?
    Makasih ^^

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...